Kesetaraan Laki-laki & Perempuan dalam Islam

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Pengantar

Isu kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan yang dijalani oleh kedua entitas ini senantiasa hangat dibicarakan. Satu pihak menganggap bahwa bahwa laki-laki dan perempuan tidak setara karena keduanya dibedakan oleh peran yang dilakoni keduanya, laki-laki berperan di sektor publik dan perempuan berada di sektor domestik, sementara pihak yang lainnya (yang lebih dikenal sebagai feminis) beranggapan bahwa sesungguhnya kedua jenis kelamin ini berada pada posisi yang setara. Beberapa kalangan feminis menyatakan bahwa anggapan ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan mengemuka karena faktor budaya yang mengelilingi manusia. Budaya patriarkhi yang diciptakan laki-laki untuk semakin menguatkan posisinya untuk terus mensubordinasi perempuan untuk kepentingan laki-laki.

Di samping faktor budaya, agama juga dituding menjadi ‘biang’ terus tidak berdayanya perempuan. Beragam ajaran agama dianggap sangat tidak mendukung eksistensi perempuan, kecuali hanya untuk ‘mendukung’ superioritas laki-laki. Tulisan berikut akan mencoba memotret bagaimana konsep Islam, sebagai salah satu agama yang banyak dipeluk oleh masyarakat dunia, dalam memandang perempuan, terutama dalam hubungannya dengan isu kesetaraan peran yang banyak dilontarkan dalam diskursus feminisme. Paparan berikut akan mengambil rujukan kepada ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang secara khusus berbicara tentang peran perempuan dan seringkali dijadikan acuan kalangan yang menolak kesetaraan perempuan dengan laki-laki.

Islam dan Perempuan
Islam adalah salah satu agama yang dikategorikan sebagai agama samawi, diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW pada sekitar 14 abad yang lalu di kawasan Arab, atau tepatnya Saudi Arabia saat ini. Setelah melalui serangkaian periode, seperti masa-masa kesulitan di Mekah dan peristiwa hijrah ke Madinah, maka akhirnya Islam mendapatkan era kejayaannya dengan tersebarnya agama ini ke segenap penjuru Arab. Bahkan, setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW dan melalui para sahabat dan beragam kekhalifahan Islam, agama ini telah dipeluk oleh orang-orang yang non-Arab dan berada di berbagai wilayah yang sangat luas mencakup Asia, Afrika dan Eropa. Sebagai sebuah agama, Islam memiliki sumber rujukan yang menjadi tuntunan bagi para pemeluknya, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yang berisikan tuntunan bagi kaum muslimin sedangkan Hadits adalah ucapan dan perilaku Nabi Muhammad SAW selama hidupnya dalam memimpin umatnya.
Perempuan menjadi salah satu tema penting dalam ajaran Islam karena di samping laki-laki, perempuan juga memiliki peranan yang tidak kalah signifikannya dalam agama ini. Hal ini, misalnya, mengemuka dalam beberapa ayat al-Qur’an yang secara khusus membicarakan tentang perempuan, bahkan salah satu nama suratnya adalah an-Nisā’ yang berarti perempuan. Namun demikian, bagaimana sesungguhnya konsep Islam mengenai perempuan?
Ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an memiliki konsep mengenai perempuan, terutama dalam konteks kesetaraannya dengan laki-laki yang menjadi tema sentral diskursus feminisme. Beragam ayat al-Qur’an mengungkapkan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama berposisi sebagai hamba Allah SWT yang menjadi tujuan penciptaan dan keberadaannya di muka bumi. Hal ini misalnya dapat ditemukan dalam Surat al-‘Āriyāt ayat 56:
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون

Dari ayat ini dapat diketahui bahwa eksistensi manusia, baik laki-laki maupun perempuan di dunia adalah untuk tujuan mengabdi sebagai hamba Allah. Dengan demikian, perempuan memiliki posisi yang setara dengan laki-laki untuk menjadi hamba Allah melalui pengabdiannya selama menjalani kehidupannya. Jika seorang perempuan berbuat takwa maka ia akan mendapatkan balasan kebaikan sebagaimana halnya juga laki-laki dan demikian pula sebaliknya. Hal ini sebagaimana tercermin dalam firman Allah SWT dalam Surat an-Nahl ayat 97:
من عمل صالحا من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة ولنجزينهم أجرهم بأحسن ما كانوا يعملون

Konsep Islam yang kedua adalah perempuan dan laki-laki sama-sama berposisi sebagai khalifah di muka bumi. Di samping eksistensinya untuk mengabdi kepada Tuhan sebagai penciptanya, perempuan bersama laki-laki juga berfungsi sebagai penguasa (khalifah) yang memelihara dan memanfaatkan bumi untuk kemakmuran dan kesejahteraan umat manusia. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat al-An’ām ayat 165:
وهو الذي جعلكم خلائف في الأرض ورفع بعضكم فوق بعض درجات ليبلوكم في ما آتاكم إن ربك سريع العقاب وإنه لغفور رحيم.
Dalam ayat lain di Surat al-Baqarah ayat 30, Allah juga berfirman sebagaimana berikut ini:
وإذ قال ربك للملائكة إني جاعل في الأرض خليفة قالوا أتجعل فيها من يفسد فيها ويسفك الدماء ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك قال إني أعلم ما لا تعلمون.
Berdasarkan kedua ayat di atas dapat diketahui bahwa peran sebagai penguasa bumi adalah milik laki-laki dan perempuan dengan tanpa membeda-bedakan keduanya. Hal ini karena penyebutan kata ‘khalifah’ yang berarti penguasa tidak merujuk pada salah satu jenis kelamin, laki-laki misalnya, tetapi mencakup keduanya (laki-laki dan perempuan).
Konsep Islam yang ketiga adalah laki-laki dan perempuan secara bersama-sama memikul tanggungjawab dan mendapatkan perjanjian yang luhur dengan Allah. Menjelang seorang anak manusia lahir ke dunia, Allah mengadakan perjanjian luhur dan suci dengan calon penguasa dan penghuni bumi ini sebagaimana firman Allah dalam Surat al-A’rāf ayat 172:
وإذ أخذ ربك من بنى آدم من ظهورهم ذريتهم وأشهدهم على أنفسهم ألست بربكم قالوا بلى شهدنا أن تقوالوا يوم القيامة إنا كنا عن هذا غافلين.

Berdasarkan ayat di atas dapat dipahami bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama memikul amanah dan tanggungjawab primordial dengan pengakuan akan keTuhanan Allah yang kelak dibawanya dalam kehidupan dunia.
Konsep Islam yang keempat adalah laki-laki dan perempuan sama-sama berperan aktif dalam peristiwa ‘terusirnya’ manusia dari surga yang mewujud dalam aktivitas Adam dan Hawa. Dalam tradisi yang berkembang di masa pra Islam (Yahudi dan Kristen) dikatakan bahwa perempuan memikul beban dosa karena menjadi penyebab atau berperan aktif dalam perbuatan dosa (memakan buah khuldi) sebagaimana yang dilakukan oleh Hawa. Hal ini pula yang menyebabkan perempuan dalam tradisi pra Islam tidak mendapatkan posisi yang baik dalam hubungannya dengan laki-laki. Namun demikian, al-Qur’an menegaskan bahwa Adam (laki-laki) dan Hawa (perempuan) sama-sama memiliki andil dan berperan dalam perbuatan dosa di surga yang berujung pada ‘terusirnya’ keduanya dari tempat yang penuh kenikmatan tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Islam tidak mengenal dosa warisan dan tidak menempatkan salah satu jenis kelamin lebih baik dibandingkan yang lainnya. Hal ini sebagaimana firman-firman Allah dalam al-Qur’an berikut ini:
وقلنا يا آدم اسكن أنت وزوجك الجنة وكلا منها رغدا حيث شئتما ولا تقربا هذه الشجرة فتكونا من الظالمين (البقرة: ۳٥)
فوسوس لهما الشيطان ليبدي لهما ما ووري عنهما من سوآتهما وقال ما نهاكما ربكما عن هذه الشجرة إلا أن تكونا ملكين أو تكونا من الخالدين. (الأعراف: ٢٠).
فدلاهما بغرور فلما ذاقا الشجرة بدت لهما سوآتهما وطفقا يخصفان عليهما من ورق الجنة وناداهما ربهما ألم أنهاكما عن تلكما الشجرة وقل لكما إن الشيطان لكما عدو مبين. (الأعراف: ٢٢).

Dari ayat-ayat di atas dapat dipahami bahwa Adam dan Hawa bersama-sama tingggal di surga, kemudian keduanya secara bersama-sama terperdaya oleh godaan setan untuk memakan buah larangan Allah dan keduanya secara bersama-sama pula terusir dari surga dan mengembangkan keturunan di bumi. Dengan demikian, sangat tidak mendasar mengatakan bahwa perempuan memikul dosa warisan karena peran aktif Hawa dalam perbuatan dosa sehingga menempatkan perempuan berada dalam posisi subordinat dan laki-laki sebagai superior. Hal ini karena redaksi al-Qur’an yang disampaikan Allah menggunakan kata ganti untuk dua orang (هما) yang mengisyaratkan bahwa segala aktivitas di surga dilakukan oleh keduanya secara aktif.
Konsep Islam yang terakhir mengenai perempuan adalah kedua jenis kelamin ini sama-sama memiliki kesempatan untuk meraih prestasi. Terdapat banyak ayat al-Qur’an yang mengisyaratkan bahwa potensi berprestasi bukanlah monopoli laki-laki, akan tetapi perempuan pun memiliki peluang yang sama. Hal ini, misalnya, sebagaimana firman Allah dalam Surat an-Nisā’ ayat 124:
ومن يعمل من الصالحات من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فأولئك يدخلون الجنة ولا يظلمون نقيرا

Meskipun secara tegas Allah SWT mengungkapkan konsep kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, namun demikian masih banyak masyarakat muslim yang justru berpandangan sebaliknya. Perempuan yang seharusnya ditempatkan setara, justru diletakkan dalam posisi subordinat dan berada dibawah kekuasaan laki-laki yang dianggap superior. Kondisi ini diyakini oleh banyak kalangan karena kesalahan pemahaman atas beberapa teks agama, baik al-Qur’an maupun Hadis Nabi yang seringkali dimaknai oleh kalangan feminis sebagai missogini atau hadits yang ‘membenci’ perempuan. Untuk menyebut beberapa teks agama yang dijadikan ‘senjata’ untuk menempatkan perempuan dalam posisi subordinat dan memperlakukan laki-laki sebagai superior adalah di antaranya: Surat an-Nisā’: 1 dan 34,  serta Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar dan Abu Bakrah.
يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء (النساء: ١)

Argumentasi yang dikemukakan untuk menempatkan perempuan dalam posisi subordinat adalah ayat di atas, terutama yang digaris bawah yang berarti: Dan darinya Allah menciptakan pasangannya. Ayat ini dipahami oleh banyak kaum muslim sebagai dalil yang menguatkan asumsi bahwa perempuan itu diciptakan Allah dari salah satu organ tubuh (tulang rusuk) Adam. Dengan demikian, menurut anggapan ini, selayaknyalah perempuan menempatkan posisi berada di bawah laki-laki yang berada lebih tinggi dan terhormat darinya. Perempuan adalah bagian dari diri laki-laki, tanpa laki-laki maka tidak aka nada perempuan dalam kehidupan ini.
Namun demikian, penafsiran ini ditolak oleh kalangan feminis seperti Riffat Hasan dan beberapa feminis muslim lainnya. Menurut mereka, kata ‘nafs wahidah’ yang terdapat dalam ayat di atas kenapa harus merujuk pada diri Adam (laki-laki) dan kata ‘zaujaha’ dipahami sebagai Hawa sebagai istrinya. Padahal kata ‘nafs’ tidak merujuk pada laki-laki maupun perempuan, atau dapat dikatakan bahwa kata ini bersifat netral dan tidak memihak, bisa laki-laki dan bisa juga perempuan. Hal yang sama juga berlaku pada kata ‘zauj’ yang tidak secara otomatis berarti ‘istri’, karena juga bersifat netral yang berarti ‘pasangan’ bisa laki-laki maupun perempuan.  Lebih lanjut, menurut salah satu feminis lainnya, Amina Wadud, yang terpenting dalam memahami ayat ini bukanlah mengenai bagaimana proses penciptaan Hawa (perempuan), tetapi realitas yang diungkapkan Allah bahwa Hawa adalah pasangan bagi Adam. Menurut feminis muslim Amerika ini, pasangan berfungsi untuk saling melengkapi apa yang menjadi kekurangan pasangannya dan keduanya berada dalam posisi yang setara karena bagaimana mungkin dapat berperan sebagai pasangan jika salah satunya berada dalam posisi yang tidak setara.
Sedangkan ayat lainnya yang dijadikan ‘penguat’ posisi subordinat perempuan dan superioritas perempuan adalah:
الرجال قوامون على النساء بما فضل الله بعضهم على بعض وبما أنفقوا من أموالهم… (النساء: ۳٤)

Ayat ini terutama dipakai oleh laki-laki untuk menghalangi perempuan tampil sebagai pemimpin karena dianggap sebagai bentuk pelanggaran terhadap aturan Allah. Padahal sesungguhnya ayat ini turun sebagai jawaban atas pertanyaan seputar kepemimpinan dalam rumah tangga dan hanya dikhususkan untuk masalah ini saja. Lebih lanjut, menurut Muhammad Abduh, ayat ini tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak memperkenan perempuan menjadi pemimpin karena kepemimpinan bukanlah monopoli mutlak laki-laki. Pembaharu Islam di Mesir menyatakan dalam ayat di atas Allah hanya menyebutkan ‘bimā fadhdhalallah ba’dhahum ‘alā ba’dh’ yang berarti : ‘oleh karena Allah telah memberikan kelebihan di antara mereka di atas sebagian yang lain’ dan bukan dengan ungkapan ‘mā fadhdhalahum bihinna’ atau ‘bitafdhīlahum ‘alaihinna’ yang berarti: oleh karena Allah telah memberikan kelebihan kepada laki-laki. Di samping itu, ayat ini tidak mempelakukan perempuan layaknya yang dipahami oleh banyak kalangan muslim, tetapi disesuaikan konteks turunnya ayat ini di kala itu. Pada saat ayat ini turun, kondisi perempuan saat itu hanya terbatas pada aktivitas di dalam rumah dan laki-lakilah yang menafkahinya sehingga laki-laki berada dalam posisi yang kuat. Namun demikian, karena al-Qur’an tidak pernah menyatakan bahwa suatu struktur sosial itu normatif, maka ketika ia berubah dimana perempuan mampu berperan layaknya yang dilakukan laki-laki maka perempuan pun dapat berdiri sejajar dengan laki-laki.
Sedangkan Hadits yang dipahami sebagai ‘penguat’ posisi subordinat perempuan dan dianggap sebagai hadits missogini di antaranya adalah dua hadits berikut ini:
عن ابن عمر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يا معشر النساء تصدقن واكثرن الإستغفار فإني رأيتكن أكثر أهل النار فقالت امرأة منهن جزلة وما لنا يا رسول الله أكثر أهل النار قال تكثرن اللعن وتكفرن العشير وما رأيت من ناقصات عقل ودين أغلب لذي لب منكن قالت يا رسول الله وما نقصان العقل والدين قال أما نقصان العقل فشهادة امرأتين تعدل شهادة رجل فهذا نقصان العقل وتمكث الليالي ما تصلي وتفطر في رمضان فهذا نقصان الدين.

Sedangkan Hadits ‘missogini’ kedua adalah sebuah hadits yang berasal dari Abu Bakrah dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Tirmidzi. Adapun terjemahan dari hadits dimaksud adalah: “Diriwayatkan dari Abu Bakrah, ia berkata: Allah ‘Azza wa Jalla memeliharaku dengan sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah SAW tatkala Kisra Persia terbunuh. Rasulullah SAW bertanya: siapa yang mereka angkat sebagai penggantinya? Para sahabat menjawab: putrinya. Lalu Rasulullah SAW bersabda: Tidak akan sukses suatu kaum bila mereka menyerahkan urusan mereka kepada perempuan. Setelah ‘Aisyah datang, ke Basrah, aku teringat ucapan Rasulullah SAW tersebut, maka Allah memeliharaku denga sabda Nabi itu”.
Kedua hadits di atas, dan masih banyak hadits-hadits lainnya, dijadikan alat untuk menguatkan dominasi laki-laki atas perempuan karena bagi mereka hal ini memang sudah digariskan oleh Rasulullah. Titik terpenting ‘penguatan’ posisi subordinat perempuan pada hadits pertama terletak pada ‘nuqshān al-‘aql wa dīn’ yang berarti ‘lemah akal dan agama’, sedangkan pada hadits kedua terletak pada pemilihan perempuan sebagai pemimpin yang akan membawa pada kemunduran.
Para penganut budaya patriarkhi meyakini bahwa kelemahan utama perempuan adalah terletak pada akal pikiran yang mereka miliki. Padahal serangkaian penelitian ilmiah mengungkapkan bahwa tidak perbedaan otak yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki. Hal ini berarti bahwa akal pikiran yang dimiliki perempuan sama dengan yang dimiliki oleh laki-laki. Lalu bagaimana Nabi mengungkapkan bahwa perempuan adalah sosok yang memiliki kekurangan akal? Jawabannya adalah kondisi objektif perempuan saat itu hanya terbatas pada lingkungan rumah dan tidak mendapatkan keleluasaan dalam beraktivitas serta mendapatkan pengetahuan dan wawasan layaknya yang didapatkan laki-laki. Akibatnya, pengetahuan dan akal pikiran yang dimiliki perempuan saat itu jauh dan sangat kurang jika dibandingkan laki-laki. Namun demikian, jika merujuk pendapat Engineer bahwa Islam tidak menyatakan struktur sosial itu normatif, maka jika kondisi perempuan telah berubah yang ditunjukkan dengan beragam pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya maka secara otomatis apa yang disampaikan Rasulullah tersebut tidak berlaku lagi. Di samping itu, yang perlu juga dipahami bahwa banyaknya perempuan yang menjadi penghuni neraka sebagaimana yang ada dalam hadits pertama di atas dimungkinkan terjadi karena memang populasi perempuan lebih banyak jika dibandingkan dengan laki-laki. Artinya, sangat wajar jika penghuni neraka kelak didominasi oleh perempuan karena memang dari sisi kuantitatif jumlahnya memang lebih banyak dari pada laki-laki.
Berkaitan dengan hadits kedua, banyak kalangan menilai bahwa hadits ini sangat bersifat politis. Berdasarkan penelaahan yang dilakukan dua feminis muslim, Fatima Mernissi dan Amina Wadud Muhsin, hadits ini muncul ketika terjadi perselisihan antara Ali bin Abi Thalib dengan ‘Aisyah bin Abi Bakar dan perawinya diketahui sebagai salah satu pendukung Ali dalam memegang kepemimpinan Islam yang sangat ditentang oleh salah satu istri Rasulullah ini. Dengan demikian, kedua feminis muslim ini meyakini bahwa kemunculan hadits ini dimaksudkan untuk menguatkan posisi Ali sebagai penguasa Islam saat itu dan sebaliknya, melemahkan posisi ‘Aisyah dan para pengikutnya yang menentang kepemimpinan sepupu dan menantu Rasulullah ini. Hadits ini juga dapat dipahami dari konteks situasi dan kondisi saat itu. Banyak kalangan menilai bahwa penggantian kepemimpinan Persia oleh putrinya saat itu memang tidak tepat, karena di samping masih muda, putri Kisra tersebut juga sangat minim pengalaman dan pengetahuan pengelolaan negara. Dengan demikian dapat dipahami kalau Rasulullah mengatakan bahwa kepemimpinan di Persia akan mengalami kemunduran karena kebetulan penggantinya sangat minim pengalaman dan pengetahuan. Titik lemahnya kepemimpinan dalam suatu negara bukan terletak pada jenis kelaminnya, tetapi sesungguhnya terletak pada kepiawaian dan pengetahuan yang dimilikinya dan kebetulan belaka pada saat itu yang terjadi di Persia adalah kepemimpinan perempuan.

Akibat Terhadap Budaya dan Sastra
Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa secara tegas Islam meletakkan perempuan berada dalam posisi yang setara dengan laki-laki. Terdapat banyak ayat dan hadist dapat dijadikan penguat dan pendukung hal ini. Namun demikian, ternyata apa yang ditegaskan Islam terjadi sebaliknya dalam masyarakat Islam, dimana perempuan menempati posisi yang rendah dibandingkan laki-laki. Kondisi ini dapat terjadi di samping faktor kesalahan pemahaman atas teks-teks keagamaan, juga karena pengaruh kondisi sosial-budaya pra-Islam yang mengiringi perjalanan sejarah perkembangan agama ini, khusus Yahudi dan Kristen. Beragam kisah-kisah Israiliyyat tidak jarang dijadikan rujukan oleh para penafsir al-Qur’an untuk menerangkan teks-teks keagamaan Islam, baik al-Qur’an maupun Hadits. Hal ini misalnya mengemuka dalam penafsiran awal kejadian manusia, dimana Hawa dikatakan diciptakan dari tulang rusuk Adam untuk menerangkan pengertian Surat an-Nisā’ ayat 1 sebagaimana di atas.
Pemahaman atas teks-teks keagamaan ini kemudian berimplikasi pada produk budaya dan sastra yang dihasilkan oleh masyarakat Islam. Karena perempuan diyakini sebagai ‘the second sex’ sebagaimana yang dikemukakan oleh Simone de Beauvoir, maka dalam masyarakat Islam berkembang budaya yang menempatkan perempuan hanya berada dalam wilayah domestik, sedangkan laki-laki berperan aktif pada kawasan publik. Perempuan harus selalu berada dalam penguasaan dan bimbingan laki-laki, tidak diperkenankan untuk menjadi pemimpin dan lain sebagainya. Dewasa ini pun masih ada masyarakat Islam yang menganggap perempuan tidak layak menimba ilmu pengatahuan di berbagai lembaga pendidikan karena kelak juga akan kembali ke urusan domestik. Kondisi ini membuat mengemukanya ungkapan bahwa perempuan hanya untuk melakukan tiga hal, yaitu dapur untuk memasak, sumur untuk mencuci berbagai perlengkapan rumah tangga dan kasur untuk melayani kebutuhan seksual suaminya.
Sementara itu, pemahaman teks-teks keagamaan mengenai juga berimplikasi terhadap sastra dan karya sastra yang dihasilkannya. Karena perempuan distereotipekan sebagai ‘the other’ sebagaimana menurut Simone de Beauvoir, maka gambaran-gambaran yang diperlihatkan dalam karya-karya sastra adalah kondisi-kondisi keterpurukannya. Karya-karya sastra seringkali menampilkan sosok-sosok perempuan yang sangat tergantung dengan uluran tangan laki-laki layaknya ‘cinderella complex’ sebagaimana yang diungkapkan para feminis, berperan sebagai pembantu rumah tangga, istri yang sangat ‘patuh’ terhadap apa pun yang diinginkan dan diperintahkan oleh suaminya, anak perempuan yang sejak kecil dididik menjadi pengurus rumah tangga dengan mengajari memasak, merawat bayi, menjahit dan merawat suaminya kelak. Hal ini misalnya dapat dijumpai dalam novel ‘sambal bawang dan terasi’ karya Darmanto Jatman yang menggambarkan perempuan (Isah) sebagai figur dapur, Pramoedya Ananta Toer dalam ‘yang hilang’ yang mengetengahkan gambaran perempuan yang tetap dalam nasib-nasib domestiknya dan lain sebagainya. Dari contoh-contoh di atas dapat dikatakan bahwa dalam sastra (baca: karya-karya sastra) hasil pemahaman teks-teks keagamaan, perempuan ‘hanya’ sebagai objek yang memiliki sifat-sifat ‘baik’ untuk kepentingan laki-laki dan minus bagi pencitraannya.

Yogyakarta, ditengah ‘serbuan’ Merapi 2010.

DAFTAR PUSTAKA

Engineer, Asghar Ali. 1999. Islam dan Teologi Pembebasan. Alih Bahasa oleh Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
El-Saadawi, Nawal. 2001. Perempuan Dalam Budaya Patriarkhi. Aliha Bahasa oleh Zulhilmiyasri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ilyas, Yunahar. 2002. ‘Problem Kepemimpinan Perempuan Dalam al-Qur’an: Tinjauan Tafsir al-Qur’an’, dalam Jurnal Tarjih, Edisi Ketiga, Januari 2002.
Mernissi, Fatima. dan Riffat Hassan. 1995. Setara di Hadapan Allah, Relasi Laki-laki dan Perempuan Dalam Tradisi Islam Pasca Patriarkhi. Alih Bahasa: Tim LSPPA. Yogyakarta: LSPPA-Yayasan Prakarsa.
Muhsin, Amina Wadud. 1994. Wanita di Dalam al-Qur’an, Alih Bahasa oleh Yaziar Radianti. Bandung: Pustaka.
Mernissi, Fatima. 1994. Wanita di Dalam Islam. Bandung: Pustaka.
Umar, Nasaruddin. 2010. Argumen Kesetaraan Jender Perspektif al-Qur’an. Jakarta: Dian Rakyat.

Yogyakarta, 4 Desember 2010

About fahrudinhm9
Sosiolog & Konsultan Sosial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: