Menyusuri Sungai Tabir-Jambi

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Transportasi yang biasa digunakan di Sungai TabirSebagaimana diketahui bahwa di masa lalu sebelum sarana dan prasarana transportasi darat berkembang, sungai menjadi sarana perhubungan utama yang digunakan oleh masyarakat. Jambi yang memiliki banyak sungai, baik besar maupun kecil, juga dimanfaatkan masyarakatnya untuk beragam keperluan. Sungai Batanghari adalah sungai terbesar di Jambi, sekaligus juga di Sumatra, yang memiliki banyak anak-anak sungai seperti Tabir, Merangin, Tembesi dan Batang Bungo. Karena sungai sudah menjadi bagian integral dalam masyarakat Jambi, maka di sepanjang aliran sungai bermunculan banyak pemukiman hingga berkembang menjadi kawasan otonom yang dikemudian hari dikenal dengan munculnya Kerajaan Melayu Jambi.

Sungai Tabir yang berhulu di Danau Kerinci dan bermuara di Sungai Batanghari adalah sarana transportasi utama Perahu Kecil (Biduk) Sungai Tabirmasyarakat sebelum sarana transportasi darat berkembang pesat di era pasca kemerdekaan. Sungai ini dahulu dapat dilalui oleh kapal-kapal dengan ukuran kecil dan menengah, baik dari hulu maupun hilirnya. Namun demikian, setelah sarana transportasi darat berkembang pesat seperti saat ini, Sungai Tabir hanya dapat digunakan masyarakat untuk mengangkut beragam sumberdaya alam (seperti karet) dan akibat terjadinya pendangkalan maka hanya dapat dilalui perahu kecil bermesin (tempek). Sarana transportasi lainnya yang digunakan adalah perahu kecil tanpa mesin (biduk) yang menggunakan dayung.

Dan di salah satu bagian sungai yang di tepi-tepinya banyak ditumbuhi beragam tumbuhan dan bagian terdalam sungai (lubuk) terdapat Koto Rayo. Berjarak sekitar 10 kilometer di sebelah timur Desa Rantau Limau Manis, atau jika menggunakan kapal dari arah hilir (Kota Jambi) lokasi ini terletak sebelum Desa Rantau Limau Manis, sedangkan jika dari arah hulu maka terletak setelahnya. Posisi Koto Rayo terletak di sebuah bukit bertingkat-tingkat yang menjorok ke sungai dan menyimpan banyak misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini dan dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Di bukit kecil yang kini banyak ditumbuhi beragam pohon-pohon liar dalam beragam ukuran ini banyak ditemukan batu-batu merah yang berserakan di seantero kawasan seluas sekitar satu setengah hektare itu. Batu-batu bata merah tersebut di samping ditemukan berserakan, juga dapat dijumpai dalam gundukan-gundukan tanah berbentuk piramid kecil yang tersusun dan sepertinya terbentuk secara alami di kawasan ini. Batu-batu bata merah ini sudah penulis bandingkan secara kasat mata dengan batu-batu bata merah yang ada di Candi Muara Jambi. Hasilnya menurut pengetahuan penulis dan beberapa kalangan di Desa Rantau Limau Manis sama atau sangat identik dengan yang ada di salah satu peninggalan masa lalu Jambi tersebut (sebagimana gambarnya terlampir). Benda-benda lainnya yang juga dapat ditemukan di kawasan ‘misterius’ ini adalah beragam pecahan porselin berupa mangkok dan piring yang berasal dari peradaban masa lalu. Di dalam kawasan ini juga terdapat kuburan yang dianggap keramat oleh masyarakat sekitar, terletak di bawah pohon besar di antara batu-batu bata merah yang berserakan dengan ukuran yang jauh lebih besar dan panjang dibandingkan kuburan pada umumnya.

Namun demikian, sangat disayangkan situs bersejarah ini seakan terlupakan dan tidak terawat, baik oleh pemerintah maupun masyarakat sekitar. Kondisinya dibiarkan seadanya dan bahkan beberapa saat lalu areal sekitarnya sudah ditebangi untuk ditanami kelapa sawit. Ketiadaan luas areal yang pasti bagi situs Koto Rayo menjadi kendala tersendiri sehingga dikhawatirkan suatu saat nanti beradaannya menjadi hanya tinggal cerita di tengah modernisasi dan kapitalisasi yang terus bertiup kencang di kawasan ini.

Fenomena lainnya yang dapat disaksikan di Sungai Tabir, khususnya di bagian hilirnya adalah menjamurnya aktivitas penambangan emas yang dilakukan oleh masyarakat di hampir sepanjang sungai. Tidak dapat dipungkiri memang bahwa kandungan logam mulia yang terdapat di sungai memang tinggi sehingga membuat masyarakat tergiur untuk melakukan penambangan, ditambah lagi dengan realitas bahwa harga emas di pasaran terus memuncak. Jika aktivitas meracuni sungai hanya dilakukan dalam jangka waktu tertentu, meskipun sebenarnya juga tidak bisa ditoleransi, namun aktivitas penambangan dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan seluruh unsur yang terdapat di sungai, mulai dari air, pasir, batu dan lumpurnya.

Aktivitas  yang sepintas lalu tidak membahayakan kelestarian sumberdaya air karena tidak berdampak langsung kecuali perubahan warna airnya ini dilakukan dengan cara mengeruk bebatuan dan pasir yang terdapat di dalam sungai dengan suatu alat yang ditempatkan di tengah-tengah sungai. Selanjutnya bebatuan dan pasir tersebut dicampur dengan suatu zat kimia untuk memisahkannya hingga didapatkan di dalamnya emas yang kemudian dikumpulkan untuk dijual di pasaran. Limbah hasil proses pemisahan yang telah bercampur dengan zat kimia ini kemudian dibuang begitu saja untuk kemudian mengkontaminasi beragam makhluk hidup yang terdapat dalam sungai.

Dapat dibayangkan bagaimana terjadinya degradasi sungai akibat tercemarnya air akibat racun dan zat kimia, beragam makhluk hidup yang ada di dalamnya akan punah, ikan-ikan besar dan kecil akan mati, bahkan juga telur-telurnya. Hal ini berarti bahwa akan membutuhkan waktu lama untuk memulihkannya, itu pun dengan catatan bahwa aktivitas ini tidak terus berlangsung. Dan yang tak kalah mengkhawatirkan adalah terjadinya perubahan warna air, jika dahulu hal ini terjadi karena turunnya hujan lebat di hulu sungai dan hanya dalam waktu yang tidak lama, tetapi sekarang perubahan air menjadi kuning kecoklatan bercampur lumpur tak mengenal fenomena alam yang ada. Padahal hingga saat ini sungai masih menjadi tempat utama masyarakat dalam, beraktivitas seperti mandi, mencuci dan kakus, bahkan di beberapa tempat air sungai juga dijadikan untuk air minum. Bagaimana jadinya jika masyarakat mengkonsumsi air yang berwarna kuning kecoklatan bercampur Lumpur dan tentu saja terkontaminasi racun dan zat kimia berbahaya. Dampak lainnya adalah pendangkalan yang terjadi di mana-mana karena batuan dan pasir diangkat dari permukaan sungai dan banyak bertumpukan di beberapa bagian sungai.

Inilah sekilas ‘oleh-oleh’ dari perjalanan menyusuri salah satu anak Sungai Batanghari Jambi yang melintasi Kabupaten Merangin dan Kabupaten Bungo ini pada medio Juni-Juli 2011 yang lalu.

About fahrudinhm9
Sosiolog & Konsultan Sosial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: